Konservasi Penyu Pantai Taman Kili-Kili

Kabupaten Trenggalek terkenal akan potensi wisata alam yang menarik, bentangan pantai dari ujung timur Kecamatan Watulimo hingga ujung barat Kecamatan Panggul menyimpan simpul-simpul pesona yang memikat wisatawan. Diantara beberapa potensi tersebut terdapat satu destinasi wisata baru di Desa Wonocoyo Kecamatan Panggul yang berbeda dibanding lainnya , yakni tempat penangkaran penyu, Taman Kili-kili.


Untuk menuju tempat tersebut harus menempuh perjalanan naik turun bukit dengan jarak sekitar 54 km dari pusat kota trenggalek. Selama perjalanan anda akan disuguhkan oleh pemandangan bukit-bukit disebelah kanan dan kiri anda.

Pantai taman Kili-Kili menjadi lokasi pendaratan penyu-penyu langka untuk bertelur atau sering disebut dengan "pasiran". Perlu diketahui bahwa penyu tidak bertelur disembarang pantai hanya pantai-pantai yang masih sepi dan mempunyai pepohonan pandan laut yang menjadi tujuan penyu untuk bertelur. Beberapa penyu yang sering mendarat di taman kili-kili adalah penyu hijau, penyu sisik, penyu blimbing dan penyu lekang.

Penyu sisik
 Untuk melestarikan hewan yang dilindungi tersebut warga sekitar membuat suatu kelompok yang bernama kelompok  masyarakat pengawas (pokmaswas). Masyarakat yang sebelumnya menjadi "pembantai" penyu tersebut sadar bahwa penyu yang hidup dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada penyu yang mati. Perlu diketahui bahwa sebelum sadar masyarakat tersebut seringkali memanfaatkan penyu sebagai sumber makanan dengan harga yang tinggi. Dengan menjual daging dan telur penyu yang mempunyai harga tinggi bisa menjadi mata percaharian mereka.

Setelah menjadi pembantai penyu kini masyarakat tersebut berubah menjadi pelestari penyu. Kelompok Masyarakat Pengawas (pokmaswas) mulai menggalakan aksi-aksi konservasi penyu mulai dari menetaskan telur hingga melepaskan anak penyu (tukik) ke habitatnya. Pelepasan tukik ke laut atau yang sering disebut dengan ucul-ucul dilakukan pada hari-hari tertentu yang akan dihadiri oleh pejabat daerah, guru-guru, siswa-siswa dan mahasiswa yang ikut serta dalam acara upacara ucul-ucul tersebut. Para petugas POKMASWAS membawa bak-bak yang berisi tukik dan dibagikan satu-satu kepada para peserta untuk dilakukan pelepasan tukik secara serempak.

Selama rentang waktu 2011 hingga 2014 masyarakat taman kili-kili telah melepaskan sekitar 11.000 ekor penyu lembali ke habitatnya. Perlu diketahui bahwa dalam mengelola konservasi tersebut pokmaswas menggunakan dana swadaya dari pokmaswas dan dari bantuan-bantuan dari instansi-instansi yang peduli dengan lingkungan. Untuk mengelola penyu dari telur sampai berumur satu tahun menghabiskan dana yang tidak sedikit mengingat jumlah penyu yang banyak. Maka jika anda mempunyai kelebihan harta bisa menyisihkan harta anda untuk membantu konservasi penyu ini agar penyu-penyu tersebut tetap lestari dan betah untuk bermain di pantai Indonesia ini. Jika anda berkunjung di pantai taman kili-kili ini anda bisa berfoto-foto ria dengan tukik atau penyu-penyu yang berada dipenangkaran tersebut. Bapak penjaganyapun ramah dan anda bisa bertanya-tanya tentang penyu kepada bapak tersebut.

tukik
Berikut adalah hasil bincang-bincang dengan mas Ari selaku Ketua kelompok pokmaswas, Ari Gunawan mengatakan, usaha konservasi penyu tersebut digagas sejak tahun 2011. Ari menjelaskan, penyu adalah hewan laut proses pembiakannya membutuhkan waktu yang lama dan rentan terhadap kematian serta perburuan liar. 

"Kemungkinan yang bisa bertahan sampai bertelur itu hanya tiga persen, kemudian penyu itu bertelur dan pertama kali bertelur itu pada usia 30 tahun, karena inilah kami melakukan upaya penyelamatan" ujar Ari.

Kata dia, pada saat musim bertelur, anggota pokmaswas secara rutin melakukan pemantauan , karena dalam sehari terdapat dua hingga empat induk penyu yang naik ke darat. Penyu tersebut biasanya bertelur pada malam hari.  Setelah memastikan keberadaannya, keesokan hari kelompok penyelamat ini melakukan penyisiran di tepi pantai dan mengambil telur-telur untuk di tangkarkan.



"Kalau orang awam mungkin tidak tahu titik-titik yang dipakai bertelur, tapi kami yang sudah lama bersinggungan langsung dengan penyu sudah hafal dimana telur-telur itu berada," katanya.

Lebih lanjut Ari mengungkapkan, musim bertelur penyu biasanya terjadi pada bulan Maret hingga Agustus, diperkirakan jumlah penyu yang mendarat setiap tahun akan terus bertambah seiring dengan upaya konservasi yang mereka lakukan.

"Dulu itu anggota kami ini setiap hari berburu penyu tapi bukan untuk di konservasi melainkan untuk dibantai dan dijual telur serta dagingnya. Namun setelah tahu bahwa hewan ini dilindungi akhirnya kami sepakat untuk melakukan penyelamatan, dulu predatornya manusia sekarang sudah tidak lagi," ceritanya.

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

2 Responses to "Konservasi Penyu Pantai Taman Kili-Kili"